September 22, 2010

Aku dan Ibu

Menulis tentang sosok Ibu dimataku, buat aku ga segampang nulis-nulis yang lain. Kalau pun harus, aku ga akan sanggup untuk menulis semuanya. Untuk nulis yang sekarang ini aja, aku ga tahu mesti mulai dari mana. Sungguh banyak jasa beliau untukku dan amat sangat sulit untuk aku ungkap satu per satu.
Cerita yang akan aku coba tulis ini bukan semata-mata untuk menarik simpati pembaca, supaya orang iba atau merasa kasihan dan prihatin dengan sosok Aku dulu. Tapi ini hanya sebagian kecil dari ribuan cerita penuh makna antara “Aku dan Ibu”.

.........

Suatu malam, di sebuah rumah kecil dalam keheningan suasana perkampungan. Suatu kampung yang masih lekat dengan dunia keislaman dan ligkungan persantren tradisional. Listrik pun belum ada saat itu. Hanya ada nyala lampu bohlam kecil seperti nyala paku yang dibakar di beberapa rumah yang berasal dari sebuah generator diesel kepunyaan seorang pedagang di sana. Aku tinggal bertiga dalam sebuah rumah kecil dan dekat dengan pesawahan. Aku, Ibu dan Adik bayiku. Sementara Ayah bekerja di Jakarta dan mencoba mengadu nasibnya dengan berdagang disana untuk menghidupi kami. Sungguh jauh dari keramaian. Yang ada hanya sahutan suara kodok dan jangkrik ketika fajar mulai menyingsing. Inilah yang selalu menemani setiap aku malam belajar.

Ibu baru saja menidurkan adik bayiku saat itu. Sementara aku baru saja datang membawa lampu minyak tanah dalam seutas bambu kecil (*aku menyebutnya “colen” atau semacam obor) dari tempat aku mengaji.
Aku: “Assalamualaikuuumm…” (mengetuk dan membukakan pintu rumah)
Ibu: “Waalaikum’salam…udah pulang nak?” (seraya melihatku datang sambil tersenyum)
Aku: (aku mencium tangan ibu) “Udah Bu…” (dengan suara yang sedikit agak malas karena masih kecapean baru pulang mengaji dari rumah seorang ustad yang sedikit agak jauh, lalu aku meletakkan al-quran di sebuah di meja kayu yang sudah sedikit usang dan melemparkan kopiah gitu aja).
Ibu: “Uppss..ga boleh gitu ah, ingeeet kata ibu gimana?” (Ibu pun nyuruh aku untuk nyimpen al-quran dan kopiah itu di tempatnya)
Aku: “O iya aku lupa… :D” (Aku pun kembali menggambil al-quran dan meletakkannya di sebuah tatakan kecil dari papan yang ditempel di dinding serta mengaitkan kopiah di sebuah paku yang ditancapkan di balik pintu kamar) “Ade udah tidur Bu?” (Aku bertanya karna saat itu ibu sedang menggendong adikku yang masih bayi)
Ibu: “Iya, baru aja. Jangan ribut makanya ya. Hayo belajar gih sayang, ada PR ga besok?” (sambil meletakan ade bayi di ranjang)
Aku: (tanpa aku hiraukan pertanyaanya) “Bu, aku boleh nonton TV ga di rumah pa haji sekarang?” (saat itu hanya ada satu TV hitam putih yang ada di kampung itu, jadi sekalinya nonton, banyak orang, termasuk dari kampung tetangga)
Ibu: “Lho, kan udah malem, mending sekarang belajar aja ya sayang ya? Kan besok juga hari minggu, kalo kamu ga ikut ibu ke sawah, kamu kan bisa nonton TV. Ga mau kan ntar nilainya jadi merah?” (Ibu tersenyum dan mencoba membujukku)
Aku: “Ok deh… :) Ih aku ga mau, aku ga suka kalo ada angka 6-nya di rapot” (gerutu seorang anak kecil polos yang baru saja masuk SD kelas 1 di caturwulan terakhir)

Aku pun mengambil buku di tas sekolah bergambar Jiban, saat itu aku belajar PPKn. Dan ibu pun menemani aku belajar membaca dan membimbingku mengerjakan PR saat itu. Sesekali terdengar suara ejaan di beberapa penggalan kalimat, karna saat itu aku masih belum lancar membaca layaknya sekarang. Sementara adik bayiku tertidur pulas di kamar gelap yang terang hanya dengan lampu minyak tanah kecil dan cahaya bulan. Sesekali ibu pergi ke kamar melihat si adik bayi dan memeluknya di ranjang. Setelah beberapa saat, aku pun selesai belajar dan langsung masuk ke kamar.
Ibu: “Udah belajarnya? Bisa?” (Ibu bertanya dan tersenyum kecil)
Aku: “Udah Bu, insya Allah bisa koq, gampang deh pokoknya” (timpal aku sok bisa mengerjakan semuanya sendiri, padahal di bantuin ibu tadi)
Ibu: “Alhamdulillah, sini tidur deket Ibu” (aku ini penakut orangnya, jadi kita tidur dalam 1 ranjang kecil dan memang hanya ada satu kamar tidur di rumah itu, kadang aku pun terjatuh dari ranjang itu saat tidur)
Ibu menyiapkan bantal di sebelahnya untuk tidurku. Sebelum tidur biasanya aku diajari untuk meghafal doa-doa dan surat-surat pendek dalam al-quran. Termasuk saat itu.
Ibu: “Masih inget sama surat al-insyirah yang semalem ibu ajarin?”
Aku: (bingung dengan nama surat itu) “Hmmm…itu tuh yang depannya gimana ya Bu?”
Ibu: (tersenyum dan mulai membacakan ayat pertamanya) “Itu lho,yang ‘alam nasroh laka…” (sebelum selesai membaca satu ayat itu, aku pun langsung memotongnya dan seolah ga mau kalah)
Aku: “Udah, udaahh…aku hafal koq :D” (aku pun membacakannya sampa selesai dengan wajah girang)
Ibu: (tersenyum dan mulai mengusap-ngusap kepalaku)

Ibu juga suka mendongeng, atau bercerita tentang kisah-kisah nabi saat hendak tidur. Selain itu, beliau juga suka mengajak aku bercerita. Bercerita tentang bagaimana aku dalam menjalani hari-harinya. Aku senang, karena ibu selalu mendengar semuanya. Aku termasuk orang yang suka bercerita. Menanyakan berbagai hal yang aku temui dalam setiap harinya, termasuk menanyakan hal yang kadang itu ga logis.
Aku: (sambil ibu mengusap-usap kepalaku) “Bu, eamng kita boleh ya minta imbalan gitu?”
Ibu: “Lho, emang kenapa? Ayo sayang cerita” (Ibu tersenyum dan menyuruhku mulai bercerita)
Aku: “Tadi Bu, pas aku pulang sekolah. Aku kan bareng sama temen-temen. Eh pas di tengah jalan ada Ibu-ibu minta tolong dibawain bawaanya itu sama Feri, kebetulan Feri itu kan jalannya paling depan. Terus belom apa-apa, masa Feri bilang gini Bu: Imbalannya berapa buat aku? Aku pikir, emang boleh ya kita gitu?” (gerutu aku dengan ciri khas bibir keritingnya yang sedikit manyun-manyun)
Ibu: (tersenyum dan mendekapku erat penuh kasih sayang mendengar aku berbicara dengan polosnya) “Hhmm…trus tadi Feri tolong?” (seolah ibu ingin mendengar ceritaku lebih banyak)
Aku: “Ngga Bu, aku kan kasian ngeliatnya, jadi aku bawain aja, lagian kan ga berat juga. Eh tiba-tiba pas udah nyampe rumahnya aku dikasih uang seribu. Aku bilang makasih aja, terus aku jajanin mie deh yan tadi siang aku makan mentah. :D hehee”
Ibu: (mengusap-ngusap kepalaku sambil tersenyum dan tiba-tiba beliau mengambil tangan kananku dan mengangkatnya perlahan sambil berkata dengan lantunan yang amat bijak) “Sini ibu liat tangan kecilnya. Liat tangan kecil ini. Pernah tau kalau tangan yang diatas itu lebih baik dari tangan yang dibawah?”
Aku: (menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya dengan polos) “Nggak Bu. Maksudnya apa? jadi tangan kita itu mesti diatas tangan orang lain? Emang mau ngapain mesti gitu?”
Ibu: (ketawa kecil seraya mengelus telapak tanganku) “Gini sayang, tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah itu maksudnya orang yang memberi itu lebih baik dari pada orang yang menerimanya. Seperti ibu-ibu yang kamu tolong tadi. Terus ingat pesan ibu, jangan pernah mengharapkan imbalan apapun ketika kita menolong orang. Harus ikhlas dan tanpa pamrih sayang.” (seraya tersenyum) “……………………”
Banyak yang Ibu bilang saat itu, beliau selalu menjelaskan secara rinci dengan bahasa dan cara menerangkan yang paling mudah aku cerna. Kadang aku pun tertidur sebelum mendengar semua yang beliau katakan.

Cerita itu hanya sebagian kecil dari hamparan pasir kebaikan seorang Ibu. Cerita yang selalu ku ingat sampai sekarang ketika aku jauh dari Ibu. Aku udah terpisah dari Ibu sejak aku tamat SD dan harus melanjutkan ke tingkat SMP dan SMA bahkan sampai kuliah aku di Jakarta saat ini. Amat sulit untukku bisa menuliskan semuanya. Jangan untuk menuliskan cerita singkat diatas tadi tentang arti penting sosok Ibu untukku, mengingatnya saja sungguh membuat air mata ini jatuh terurai.

“Cinta adalah Ibu”

















Kutipan itulah yang aku tulis ketika suatu saat kami diminta untuk mendefinisikan pengertian cinta oleh seorang guru dalam sebuah kelas. Teman-teman yang lain banyak yang menulis panjang lebar tentag cinta itu apa. Dan aku hanya menulis demikian dalam satu halaman buku yang tersedia. Cukup singkat memang, tapi buat aku mempunyai arti yang sangat luas dan luar biasa. Kiranya di dunia ini, tidak ada budi yang bisa mengimbangi ataupun membalas cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tanpa pamrih. Cinta seorang ibu mengalir dalam darah dan ruhku. Kadang ketika aku jauh disini dan dihadapkan akan masalah yang pelik buat aku saat itu, tiba-tiba Ibu menelpon dan beliau menanyakan ada apa lalu beliau mengutarakan kegundahan hatinya saat itu. Seolah beliau tahu apa yang aku alamin tanpa aku bilang. Sungguh dekat aku dengan Ibu. Dan sungguh amat terasa rasa sayang dan rindu kepada beliau ketika aku jauh dan hidup sendiri. Aku kadang mengganggap Ibu membenci atau tidak peduli dengan aku karna sifat beliau yang kadang tak menunjukan sikap langsung yang aku mau ketika aku dihadapkan kepada suatu masalah dan aku bercerita kepada Ibu. Tapi ternyata tidak. Beliau lebih tahu cara yang terbaik untukku. Beliau kadang bertindak di balik layar, dan aku ga tahu. Tapi jelas aku merasakan efeknya bagaimana setelah itu.

Ibu kadang berbohong untukku dalam sesuatu hal. Tapi setelah aku rasakan, justru kebohongan itu bukan membuat aku lebih terpuruk dan menderita, tapi malah membuat aku menangis haru, sadar dan membuatku bangkit. Dahulu, aku memang hidup tidak semapan sekarang. Tapi ibu tidak pernah membuatku larut dalam kepedihan itu. Beliau yang selalu mengajariku untuk senantiasa bersyukur atas apa yang ada. Aku serasa akan menjadi orang besar ketika aku dekat dengan Ibu dan mendengarkan kata-kata beliau. Ibu adalah orang yang pertama dan selalu bilang bahwa aku bisa dalam segala hal. Begitu dalamnya cinta dan kasih sayang seorang Ibu untukku. Aku berjanji, walaupun aku tidak akan sanggup untuk mewujudkan semuanya, ketika aku masih diberikan kesempatan untuk membalas budi beliau seperti sekarang, aku akan melakukan yang terbaik untuk Ibu. Aku tidak mau suatu saat aku baru tersadar dan ada kata menyesal di kemudian hari dalam hidupku.

“Terima Kasih Ibu!”


19 komentar:

Rosikhah Al-Maris said... (Reply)

saya pun ingin mengatakan : Terimakasih Ibu ....

nice posting...

*blog walking*

berkunjung balik yaa...
http://rosevioly.blogspot.com

ajengkol said... (Reply)

Kangen bunda almarhumah :)

odysexehbeth said... (Reply)

Mama, maaf aku ga pernah tahu betapa aku sayang sama Mama sampai aku tinggal jauh dari rumah.. aku kangen Mama..

RUDYTABOTI!RAMIK RAGOM said... (Reply)

Thanks mom!forever U....

ZAENAL MUTAQIEN said... (Reply)

good writing!!
i love u mom..

hadiqo said... (Reply)

satu kalimat yang bisa menjelaskan ibu
"seorang wanita tersempurna yang pernah aku kenal"


good writing :)

Anonymous said... (Reply)

biar aja dech kalo gw di bilang LEBAY!!!!!!!!!

air mata gw langsung jatuh di pipi dang :'(

jangankan menulis tentang IBU, cerita aja ga tahan!!!!!!! Hiks....Hiks..... :'(

Rifa_LoveLy girL said... (Reply)

kerenn..

jd pngen pulang..hohooo

Anonymous said... (Reply)

nice posting.....

jadi buat temen2 yang udah baca tulisan ini,,
coba kita lebih menghormati & menyayangi ibu melebihi kita menyayangi pasangan kita..
kita gag akan ada di dunia ini kalo ga ada seorang "Ibu"...
cth kecil:
perjuangannya dari awal untuk melahirkan(antara hidup&mati)kita aja udah gag bisa kita balas dengan materi apapun...
makanya sekarang saatnya buat kita untuk dapat membahagiakan orang tua(Untuk yang orang-tuanya masih ada)...
jangan sampai menyesal ga bisa ngebahagiain orang-tua kita kalo nanti dia udah ga ada....

oke...

izna said... (Reply)

terima kasiih,,,,,

nggak bisa qt membalas setiap detik jasanya buat qt

ebas said... (Reply)

biyung ku .....

aduh... q kangen ...

trimakasih sedalam lubuk hatiku untukmu ibu....

Deska Cobain Blog said... (Reply)

sungguh menyentuh..
jadi kangen mama.. :|

Kang Abid said... (Reply)

thanx for share,.. ibu,...
ibu.... semoga Tuhan memberikan kedamaian dalam hidupmu..amin *jadi pengen pulang ketemu ibu

Isti said... (Reply)

Tiada yang bisa membalas jasamu Ibu..

Novi Saluntara said... (Reply)

Ibu memang tiada duanya...
Nice story ^^

farahlolaloli said... (Reply)

ceritanya bagus... #menyentuh
love u mom..

Hafizh said... (Reply)

nice story nan'.. keep writing!! :D

dirikudisini said... (Reply)

nice posting..... *terharu*

Nan's Blog said... (Reply)

many thanks ya smuanya.. ^^

Post a Comment