September 24, 2010

Dapur Seni FST UIN: Propesa UIN 2010

Setelah sempet jadi kontroversi & menimbulkan banyak komen dari desain propesa yang pertama karena memuat foto artis *klik disini*, ahirnya gw ngelarin revisi desainnya.
Kali ini tanggalnya pun udah bener ga kayak yg sebelumnya, berdasarkan rapat2 anak BEM yang pada susah nentuin tanggal *cuz suka ganti2 ga jelas*. Dan yang pasti gambarnya pun udah gue ganti, ga pasang si foto artis itu lagi. :D

Cekidot!cekidot!!


So, buat maba *maba ≠ mahasiswa banci* yang secara ga sengaja masuk halaman blog gue ini, jangan lupa dateng ya. Terutama buat panitia dapur seni untuk acara ini, wajib hadir, JANGAN TELAT!! *nasehatin diri sendiri sebenernya*


September 22, 2010

Aku dan Ibu

Menulis tentang sosok Ibu dimataku, buat aku ga segampang nulis-nulis yang lain. Kalau pun harus, aku ga akan sanggup untuk menulis semuanya. Untuk nulis yang sekarang ini aja, aku ga tahu mesti mulai dari mana. Sungguh banyak jasa beliau untukku dan amat sangat sulit untuk aku ungkap satu per satu.
Cerita yang akan aku coba tulis ini bukan semata-mata untuk menarik simpati pembaca, supaya orang iba atau merasa kasihan dan prihatin dengan sosok Aku dulu. Tapi ini hanya sebagian kecil dari ribuan cerita penuh makna antara “Aku dan Ibu”.

.........

Suatu malam, di sebuah rumah kecil dalam keheningan suasana perkampungan. Suatu kampung yang masih lekat dengan dunia keislaman dan ligkungan persantren tradisional. Listrik pun belum ada saat itu. Hanya ada nyala lampu bohlam kecil seperti nyala paku yang dibakar di beberapa rumah yang berasal dari sebuah generator diesel kepunyaan seorang pedagang di sana. Aku tinggal bertiga dalam sebuah rumah kecil dan dekat dengan pesawahan. Aku, Ibu dan Adik bayiku. Sementara Ayah bekerja di Jakarta dan mencoba mengadu nasibnya dengan berdagang disana untuk menghidupi kami. Sungguh jauh dari keramaian. Yang ada hanya sahutan suara kodok dan jangkrik ketika fajar mulai menyingsing. Inilah yang selalu menemani setiap aku malam belajar.

Ibu baru saja menidurkan adik bayiku saat itu. Sementara aku baru saja datang membawa lampu minyak tanah dalam seutas bambu kecil (*aku menyebutnya “colen” atau semacam obor) dari tempat aku mengaji.
Aku: “Assalamualaikuuumm…” (mengetuk dan membukakan pintu rumah)
Ibu: “Waalaikum’salam…udah pulang nak?” (seraya melihatku datang sambil tersenyum)
Aku: (aku mencium tangan ibu) “Udah Bu…” (dengan suara yang sedikit agak malas karena masih kecapean baru pulang mengaji dari rumah seorang ustad yang sedikit agak jauh, lalu aku meletakkan al-quran di sebuah di meja kayu yang sudah sedikit usang dan melemparkan kopiah gitu aja).
Ibu: “Uppss..ga boleh gitu ah, ingeeet kata ibu gimana?” (Ibu pun nyuruh aku untuk nyimpen al-quran dan kopiah itu di tempatnya)
Aku: “O iya aku lupa… :D” (Aku pun kembali menggambil al-quran dan meletakkannya di sebuah tatakan kecil dari papan yang ditempel di dinding serta mengaitkan kopiah di sebuah paku yang ditancapkan di balik pintu kamar) “Ade udah tidur Bu?” (Aku bertanya karna saat itu ibu sedang menggendong adikku yang masih bayi)
Ibu: “Iya, baru aja. Jangan ribut makanya ya. Hayo belajar gih sayang, ada PR ga besok?” (sambil meletakan ade bayi di ranjang)
Aku: (tanpa aku hiraukan pertanyaanya) “Bu, aku boleh nonton TV ga di rumah pa haji sekarang?” (saat itu hanya ada satu TV hitam putih yang ada di kampung itu, jadi sekalinya nonton, banyak orang, termasuk dari kampung tetangga)
Ibu: “Lho, kan udah malem, mending sekarang belajar aja ya sayang ya? Kan besok juga hari minggu, kalo kamu ga ikut ibu ke sawah, kamu kan bisa nonton TV. Ga mau kan ntar nilainya jadi merah?” (Ibu tersenyum dan mencoba membujukku)
Aku: “Ok deh… :) Ih aku ga mau, aku ga suka kalo ada angka 6-nya di rapot” (gerutu seorang anak kecil polos yang baru saja masuk SD kelas 1 di caturwulan terakhir)

Aku pun mengambil buku di tas sekolah bergambar Jiban, saat itu aku belajar PPKn. Dan ibu pun menemani aku belajar membaca dan membimbingku mengerjakan PR saat itu. Sesekali terdengar suara ejaan di beberapa penggalan kalimat, karna saat itu aku masih belum lancar membaca layaknya sekarang. Sementara adik bayiku tertidur pulas di kamar gelap yang terang hanya dengan lampu minyak tanah kecil dan cahaya bulan. Sesekali ibu pergi ke kamar melihat si adik bayi dan memeluknya di ranjang. Setelah beberapa saat, aku pun selesai belajar dan langsung masuk ke kamar.
Ibu: “Udah belajarnya? Bisa?” (Ibu bertanya dan tersenyum kecil)
Aku: “Udah Bu, insya Allah bisa koq, gampang deh pokoknya” (timpal aku sok bisa mengerjakan semuanya sendiri, padahal di bantuin ibu tadi)
Ibu: “Alhamdulillah, sini tidur deket Ibu” (aku ini penakut orangnya, jadi kita tidur dalam 1 ranjang kecil dan memang hanya ada satu kamar tidur di rumah itu, kadang aku pun terjatuh dari ranjang itu saat tidur)
Ibu menyiapkan bantal di sebelahnya untuk tidurku. Sebelum tidur biasanya aku diajari untuk meghafal doa-doa dan surat-surat pendek dalam al-quran. Termasuk saat itu.
Ibu: “Masih inget sama surat al-insyirah yang semalem ibu ajarin?”
Aku: (bingung dengan nama surat itu) “Hmmm…itu tuh yang depannya gimana ya Bu?”
Ibu: (tersenyum dan mulai membacakan ayat pertamanya) “Itu lho,yang ‘alam nasroh laka…” (sebelum selesai membaca satu ayat itu, aku pun langsung memotongnya dan seolah ga mau kalah)
Aku: “Udah, udaahh…aku hafal koq :D” (aku pun membacakannya sampa selesai dengan wajah girang)
Ibu: (tersenyum dan mulai mengusap-ngusap kepalaku)

Ibu juga suka mendongeng, atau bercerita tentang kisah-kisah nabi saat hendak tidur. Selain itu, beliau juga suka mengajak aku bercerita. Bercerita tentang bagaimana aku dalam menjalani hari-harinya. Aku senang, karena ibu selalu mendengar semuanya. Aku termasuk orang yang suka bercerita. Menanyakan berbagai hal yang aku temui dalam setiap harinya, termasuk menanyakan hal yang kadang itu ga logis.
Aku: (sambil ibu mengusap-usap kepalaku) “Bu, eamng kita boleh ya minta imbalan gitu?”
Ibu: “Lho, emang kenapa? Ayo sayang cerita” (Ibu tersenyum dan menyuruhku mulai bercerita)
Aku: “Tadi Bu, pas aku pulang sekolah. Aku kan bareng sama temen-temen. Eh pas di tengah jalan ada Ibu-ibu minta tolong dibawain bawaanya itu sama Feri, kebetulan Feri itu kan jalannya paling depan. Terus belom apa-apa, masa Feri bilang gini Bu: Imbalannya berapa buat aku? Aku pikir, emang boleh ya kita gitu?” (gerutu aku dengan ciri khas bibir keritingnya yang sedikit manyun-manyun)
Ibu: (tersenyum dan mendekapku erat penuh kasih sayang mendengar aku berbicara dengan polosnya) “Hhmm…trus tadi Feri tolong?” (seolah ibu ingin mendengar ceritaku lebih banyak)
Aku: “Ngga Bu, aku kan kasian ngeliatnya, jadi aku bawain aja, lagian kan ga berat juga. Eh tiba-tiba pas udah nyampe rumahnya aku dikasih uang seribu. Aku bilang makasih aja, terus aku jajanin mie deh yan tadi siang aku makan mentah. :D hehee”
Ibu: (mengusap-ngusap kepalaku sambil tersenyum dan tiba-tiba beliau mengambil tangan kananku dan mengangkatnya perlahan sambil berkata dengan lantunan yang amat bijak) “Sini ibu liat tangan kecilnya. Liat tangan kecil ini. Pernah tau kalau tangan yang diatas itu lebih baik dari tangan yang dibawah?”
Aku: (menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya dengan polos) “Nggak Bu. Maksudnya apa? jadi tangan kita itu mesti diatas tangan orang lain? Emang mau ngapain mesti gitu?”
Ibu: (ketawa kecil seraya mengelus telapak tanganku) “Gini sayang, tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah itu maksudnya orang yang memberi itu lebih baik dari pada orang yang menerimanya. Seperti ibu-ibu yang kamu tolong tadi. Terus ingat pesan ibu, jangan pernah mengharapkan imbalan apapun ketika kita menolong orang. Harus ikhlas dan tanpa pamrih sayang.” (seraya tersenyum) “……………………”
Banyak yang Ibu bilang saat itu, beliau selalu menjelaskan secara rinci dengan bahasa dan cara menerangkan yang paling mudah aku cerna. Kadang aku pun tertidur sebelum mendengar semua yang beliau katakan.

Cerita itu hanya sebagian kecil dari hamparan pasir kebaikan seorang Ibu. Cerita yang selalu ku ingat sampai sekarang ketika aku jauh dari Ibu. Aku udah terpisah dari Ibu sejak aku tamat SD dan harus melanjutkan ke tingkat SMP dan SMA bahkan sampai kuliah aku di Jakarta saat ini. Amat sulit untukku bisa menuliskan semuanya. Jangan untuk menuliskan cerita singkat diatas tadi tentang arti penting sosok Ibu untukku, mengingatnya saja sungguh membuat air mata ini jatuh terurai.

“Cinta adalah Ibu”

















Kutipan itulah yang aku tulis ketika suatu saat kami diminta untuk mendefinisikan pengertian cinta oleh seorang guru dalam sebuah kelas. Teman-teman yang lain banyak yang menulis panjang lebar tentag cinta itu apa. Dan aku hanya menulis demikian dalam satu halaman buku yang tersedia. Cukup singkat memang, tapi buat aku mempunyai arti yang sangat luas dan luar biasa. Kiranya di dunia ini, tidak ada budi yang bisa mengimbangi ataupun membalas cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tanpa pamrih. Cinta seorang ibu mengalir dalam darah dan ruhku. Kadang ketika aku jauh disini dan dihadapkan akan masalah yang pelik buat aku saat itu, tiba-tiba Ibu menelpon dan beliau menanyakan ada apa lalu beliau mengutarakan kegundahan hatinya saat itu. Seolah beliau tahu apa yang aku alamin tanpa aku bilang. Sungguh dekat aku dengan Ibu. Dan sungguh amat terasa rasa sayang dan rindu kepada beliau ketika aku jauh dan hidup sendiri. Aku kadang mengganggap Ibu membenci atau tidak peduli dengan aku karna sifat beliau yang kadang tak menunjukan sikap langsung yang aku mau ketika aku dihadapkan kepada suatu masalah dan aku bercerita kepada Ibu. Tapi ternyata tidak. Beliau lebih tahu cara yang terbaik untukku. Beliau kadang bertindak di balik layar, dan aku ga tahu. Tapi jelas aku merasakan efeknya bagaimana setelah itu.

Ibu kadang berbohong untukku dalam sesuatu hal. Tapi setelah aku rasakan, justru kebohongan itu bukan membuat aku lebih terpuruk dan menderita, tapi malah membuat aku menangis haru, sadar dan membuatku bangkit. Dahulu, aku memang hidup tidak semapan sekarang. Tapi ibu tidak pernah membuatku larut dalam kepedihan itu. Beliau yang selalu mengajariku untuk senantiasa bersyukur atas apa yang ada. Aku serasa akan menjadi orang besar ketika aku dekat dengan Ibu dan mendengarkan kata-kata beliau. Ibu adalah orang yang pertama dan selalu bilang bahwa aku bisa dalam segala hal. Begitu dalamnya cinta dan kasih sayang seorang Ibu untukku. Aku berjanji, walaupun aku tidak akan sanggup untuk mewujudkan semuanya, ketika aku masih diberikan kesempatan untuk membalas budi beliau seperti sekarang, aku akan melakukan yang terbaik untuk Ibu. Aku tidak mau suatu saat aku baru tersadar dan ada kata menyesal di kemudian hari dalam hidupku.

“Terima Kasih Ibu!”


September 20, 2010

Tampil Narsis Dimana Aja!

Pas rapat pertama prihal propesa bareng anak2 Dapur Seni di sekretariat waktu itu, dan gue nunjukin desainan ini, mereka serentak langsung pada bilang, "Woooww, kereeeeeennn.." *dengan posisi mulut menganga, kayak abis nemuin duit sekarung*.
Tapi pas mereka ngeliat detil backgroud-nya, tiba2 tampangnya jadi pada aneh, kayak abis ngeliat hantu, pucet, memar *kayak abis digebukin*, jidat mengkerut, pokoknya jadi kayak orang baru nginjek pup di jalan gitu deh.
"Ini elo nan??!" Gue dengan wajah ceria dan riang jawab, "Iya dong, keren kan" *twing,,twing!! alis gw jadi turun naek kayak orang india* :D hihii
Gubrakk..!!

Salah satu motto hidup gue adalah "Narsis dimana aja". Dan inilah dia desainan paling narsis dan ga jelas sepanjang gue berkarir di dunia edit2an.

Yupz..gini2 juga ini desain buat poster propesa ntar lho. Ga percaya? Lo pada ga setuju??!
Baguusss, berarti lo termasuk normal. :D hahaa.
Maksudnya? Cek dibawah!!


Percaya kan sekarang. Mau bilang bagus juga, ada yang ketawa dulu lah, muntah, diare tiba2, semuanya karena kaget liat background-nya yang menambah keindahan dan keasrian desain poster ini. ^^
Itu cuma beberapa komen aja lho, yg lainnya sengaja ga gw tampilin. Panjaaang banget soalnya, bisa ngerusak scroll mouse kalo dipajang. *isinya kecaman semua* :D hahaa

Dan beberapa komen balik gue adalah:
"oohh..maksudnya perlu ditambahin foto gw lagi..?? biar tambah oke gtu.. =D"
"tujuannya pasang foto gw kan biar ga ada yg tertarik..hahaa *mimisan*"
"waduh,,jadi banyak notif.. *pasti karna daya tarik orang yg jadi backgroundnya* :D"

Yaahh..begitulah. Artis emang selalu jadi kontrofersi. Ckckckckk... *sok2 mikir*


September 9, 2010

Gejolak Dunia Kambing

Lebaran itu identik dengan daging. Biasanya sehari menjelang hari raya idul fitri (H-1), orang-orang udah pada sibuk nyiapin daging-daging itu. Tak terkecuali dengan keluarga gw. Nyokap gw bilang, “ga berasa lebaran kalo blom motong kambing”. Pernyataan si nyokap ternyata cukup membuat dunia kambing bergejolak, si kambing2 pada takut jadinya. Tradisi lebaran di keluarga gw emang selalu dikepuli dengan asap2 panggangan sate kambing kalo lagi sore2 menjelang buka. Hhmmm. *ngiler*
Ini dia penampakan si kambing...

Beberapa hari sebelumnya, si kambing emang dimanjain banget, selain makan rumput yang penuh dengan kandungan salah satu band terkenal dengan nyanyian andalannya “suara dengarkanlah aku,,” *gw biasanya bilang band klorofil alias hijau daun*, si kambing juga di kasih makan ekstra, kue-kue lebaran, plus dapet tambahan gizi dengan minum susu juga. *belakangan diketahui susu itu ternyatan susu kambing*. Jadinya si kambing terlihat lebih gemuk, seksi dan menggemaskan. Bukan di mata gw, tapi…di mata golok sang penjagal. :D hahahahaaa *ketawa ala psikopat kambing*


Mimpi-mimpi si kambing yang indah selama beberapa hari ini *ini akibat dia makan enak, jadi tidurnya nyenyak* harus berubah sesaat menjadi bencana yang akan mengakhiri hidupnya. Tampang imut ala kambing pun tiba-tiba berubah jadi muram. Suara “mbek..mbek..” ala si kambing juga berubah jadi “nggak..nggak..nggaaakk” dengan tampang memelas. Beberapa kambing juga sempet syok dan melakukan aksi mogok makan. Yang lebih parah, si kambing cewe punya om gw tiba-tiba jadi mandul. *ntah ngeceknya gimana, sebenernya cuma alesan aja biar dapet perizinan dari si kambing cowo*. Begitu kejam pernikahan di dunia kambing. Untuk ngebujuk si kambing cowo suaminya, biasanya gw cariin si kambing cewe panggilan, jadi rindu si kambing cowo sedikit bias terobati. Ini kambing apa skandal perselingkuhan di sinetron2 sih? *mimisan*

Hari yang gw nantikan dan kambing2 ga harapkan pun datang, yups..sehari sebelum lebaran. Gw pun yang biasanya tidur abis shubuh, kali ini nggak. Ga sabar menunggu pagi saat kambing2 itu terlihat riang gembira murung. Kasian si kambing. Tapi ini ga menyurutkan gw untuk lebih semangat. SEMANGAAAATT!! :D hihii dan si kambing pun menangis.

Paginya, sekitar jam 7, bokap gw udah ngejemput kambing dari kurungannya. Lebaran kali ini kita emang motong 2 ekor kambing, 1 kambing cewe yang mandul akibat syok punya om gw, 1 lagi kambing jantan yang masih KBG (kambing baru gede) punya gw. Eksekusi pun di mulai dari kambing cewe punya si om. Si kambing cewe ini ga banyak permintaan sebelum pengeksekusiannya. Dia kayaknya comfort aja pas dipasang tali di kakinya sampai disembelih pun. Mungkin karena masih syok kali ya. Haduuuhh.

Beda banget sama si kambing cowo punya gw. Dia udah minta ini itu dan aneh2, selain minta makan, si kambing juga minta TV baru, kamera SLR, DVD, plus speaker aktif. *Ini kambing mau narsis2an sembari karaokean kali*. Setelah gw bujuk2 dengan permintaannya yang aneh itu, ahirnya si kambing mulai pasrah dan dia cuma minta makan sama di foto doang. Ya udahlah,,gw foto juga ahirnya. Ada-ada aja si kambing. Ini poto kenangan si kambing. *sedih gw kalo inget, apalagi pas teriak2: "jangan bunuh gw..jangan bunuh gw..!! pliiissss..."*


Si kambing pun berbaring. Dia agak nolak sebelumnya karena takut pas liat darah si kambing cewe tadi. Gw pun bilang: “..’mbing, ini ga akan sakit koq, kayak digigit semut..” :D *dengan senyum menawan gw*. Si kambing jawab: ”oke lah kalo begitu..” pake logat kembing tegal. Trus tiba-tiba dia nasehatin gw dan bilang: “Jangan lupa belajar ya ‘nyet, jangan banyak nangis juga lo, malu sama si tasya..” *'nyet = monyet*. Buset, udah gw baik2in masih aja ngajak becanda aja. Gw peluk si kambing erat2 kayak di pilem AADC waktu nikolas mau pergi di bandara. Ahirnya dengan penuh kesedihan, cucuran air mata dan sedikit prasaan kesel gara2 kata2 si kambing barusan, si kambing pun dipulangkan ke alam lain. Bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar.

T.T hiks..hiks.. *nangis gw litanya, walaupun om gw yang motong* udah kayak di acara realigi.
“Selamat tinggal ‘mbing, akan gw inget kata2 lo tadi. Doaku menyertaimu, Dagingmu mengenyangkanku. Minal aidin wal faidzin.”

PS: Poto2 waktu pengeksekusian si kambing sengaja ga ditampilin, terlalu afgan *sadis* hhiiiihh..
Untuk mengenang alm.si kambing, gw merelakan untuk ga mandi sampai waktu dzuhur. Biarlah wangi bau si kambing masih melekat. *sebenernya karna males* :D hihii