March 22, 2008

Write down Your Own Feeling

"Seperti ada desakan untuk mengeluarkan sesuatu dari kepala, apalagi kalau merasa tidak nyaman untuk menceritakan secara verbal kepada orang lain."
Kalimat itu mungkin mewakili seseorang untuk mulai menulis tentang sesuatu, apapun itu dan terlebih tentang dia sendiri yang lebih memilih cara non-verbal untuk mengungkapkan "all about feeling". Baik menulis di buku harian, blog ataupun sebuah account yang mengediakan halaman gratis untuk diisi sesuka kita. Aku teringat seseorang di SMA aku dulu, yang sempat juga menjadi seseorang yang spesial buat aku, dan mungkin sampai sekarang :-) Menurut aku dia ini tipe cewek pendiam diantara teman-temannya di kelas, cantik, dan tidak terlalu banyak bertingkah. Sampai suatu saat aku hadir di hidupnya, aku mulai tahu siapa dia, bagaimana dia dan yang menarik adalah ketika aku tahu kalau dia suka menulis di buku harian kecilnya yang berwarna kuning. Dia mengungkapkan segalanya disana, seolah-olah telah menjadi sahabat yang senantiasa memberikan keleluasaan untuk ia berekspresi dan berbagi, yang setia menemaninya ketika ia hendak tidur. Apa yang ia suka, apa yang ia benci dan apa yang membuatnya kagum ataupun bahagia akan peristiwa yang ia lewati dalam setiap hari-harinya, semuanya ia curahkan dalam buku kecil itu. Hati memang tidak akan berbicara secara gamblang seperti mulut kita. Mungkin tulisan menjadi sebuah simbol dari bahasa hati. Dan biasanya tulisan akan lebih berkata jujur daripada apa yang terucap dari mulut kita. Seperti ada proses "deal or no deal" dalam diri kita ketika akan mengeluarkan suatu perkataan dari mulut yang didasarkan pada berbagai pertimbangan. Apakah ini bagus untuk dikumukakan ataukah tidak. Kebanyakan orang lebih suka menyelaraskan dan mencari compatibility dalam ia berbicara walapun kenyataan sebenarnya dalam hati tidak demikian.
Berbeda dengan aku yang sebenarnya aku sendiri termasuk orang yang lebih senang menceritakan semua unek-unek aku (secara verbal) dari pada menulis seperti ini. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang menurut aku layak untuk jadi pendengar setia aku. Sekarang aku sendiri, dan aku pun mulai berfikir untuk belajar mengungkapkan isi hatiku, sesuatu yang ingin aku katakan, dan apapun yang ingin aku lakukan, ku tumpahkan semuanya kedalam sebuah tulisan. Seperti kalimat pertama di atas tadi, ini menjadikan sebab kebanyakan orang mulai menulis seabreg cerita seputar permasalahan pribadi, keluhan atau peristiwa hidup yang ingin dicurahkan lewat tulisan. Bentuk ekspresinya pun beragam, ada yang melalui puisi, cerpen, maupun curhatan biasa saja dengan gaya pembicaraannya sendiri. Kadang orang juga akan lebih objektif dalam melihat konflik pribadinya setelah membaca apa yang dituliskan olehnya sendiri. Ini merupakan hal lumrah dan mungkin salah satu kelebihan dari kita menulis. Orang akan melihat masalahnya lebih jelas bahkan ketika sebelum ia selesai menulis. Ada juga beberapa pernyataan yang sudah ditulis panjang lebar, ternyata kembali ia hapus karena dianggap tidak sesuai dengan masalah yang menjadi topiknya kala itu atau ia menemukan kata-kata atau kalimat yang lebih pantas untuk menggambarkan sesuatu dalam tulisannya ataupun ia berfikir kalau ia tekesan terlalu membesar-besarkan persoalan.
Fenomena menulis ini juga sangat menarik ketika dihubungkan dengan penelitian yang mengungkapkan bahwa menulis bisa membantu kita menyelesaikan masalah pribadi. Aku pernah membaca dalam suatu artikel bahwa salah satu cara mengatasi kepedihan dari suatu konflik adalah dengan menghadapinya, menyerap dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan memahami makna yang bisa diambil dari kepedihan tersebut. Disana juga dikatakan bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi pada diri kita yang tidak berguna, bahkan kepedihan tersebut bisa menjadi dasar untuk membangun karakter pribadi yang lebih baik. Melalui menulis kita akan belajar menyusun kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri kita dan menjadikan tulisan tersebut sebagai sarana untuk menganalisis diri sendiri atau bahkan untuk memandang peristiwa tersebut lebih logis.
Menulis akan membantu kita untuk mengerti siapa, bagaimana dan kenapa kita mengalami keterlibatan yang sangat medalam pada suatu peristiwa. Menulis juga membantu untuk mengarahkan energi kita ke hal yang lebih baik karena menulis membuat kita bersentuhan langsung dengan hal-hal yang sebenarnya selama ini kita sembunyikan dari diri kita sendiri.
James W. Pennebaker, PhD. seorang peneliti yang aku sendiri tidak tahu orangnya seperti apa :-) dalam bukunya Opening Up mendokumentasikan penelitian panjangnya tentang bagaimana menulis membantu proses penyembuhan. Tidak sedikit di antara kita yang bisa dengan mudahnya keluar dari suatu masalah dengan cara mengeliminasi masalah itu begitu saja. Tapi mereka yang bisa memanfaatkan masalah itu secara konstruktif untuk menyelesaikan masalah tersebut, bisa dikatakan lebih sehat dari pada yang tidak memanfaatkannya. n_n